TEORI KETERGANTUNGAN (2): INTI PEMIKIRANNYA   RESUMEMATA KULIAH PEMBANGUNAN NASIONAL

TEORI KETERGANTUNGAN (2): INTI PEMIKIRANNYA

 

 

 

RESUME

MATA KULIAH PEMBANGUNAN NASIONAL DAN REGIONAL

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

 

Oleh :

M.Agus Ma’mun    :  (1031040055)

 

 

 

 

 

FAKULTAS USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

RADEN INTAN LAMPUNG

 

TEORI KETERGANTUNGAN (2) INTI PEMIKIRANNYA

Teori ketergantungan mempunyai dua induk pertama adalah teori-teori tentang      imperialisme dan kolonialisme. Induk kedua datang dari studi-studi empiris tentang pembangunan-pembangunan dinegara pinggiran.imprealisme adalah negara-negara yang mempunyai kepentingan dalam bidang ekonomi.

Ham relasi indifidu dengan negara (ham )

Perubahan idealis ialah perubahan yang mencari perubahan matrealistik.dan tujuannya dalam bidang identitas keamanan dan keluar dari kejenuhan

Yang dimaksud ketergantungan adalah dimana keadaan ekonomi negara –negara  tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dari ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, dimana negara-negara  tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan saling tergantung antara dua sistim ekonomi atau lebih, dan hubungan antara sistim-sistim ekonomi  ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila ekonomi beberapa negara (yang dominan) bisa berekpsansi dan bisa berdiri sendiri, sedangkan ekonomi-ekonomi negara lainnya(yang tergantung) mengalami perubahan hanya sebagai akibat dari ekspansi tersebut, baik positif maupun negatif.

Kapitalisme dinegara-negara pinggiran adalah kapitalisme pinggiran, atau kapitalisme yang bergantung pada kapitalisme di pusat. Dengan demikian, menurut teori ketergantungan, keterbelakangan yang terjadi di negara-negara pinggiran disebabkan oleh adanya sentuhan ini, jadi disebabkan oleh faktor eksternal.

Oleh para ahli yang nenganut paham liberal, hubungan antara negara-negara pusat dan pinggiran ini dikatakan sebagai hubungan saling ketergantungan, dimana kedua belah pihak ada dalam posisi saling membutuhkan. Negara-negara pusat membutuhkan bahan mentah untuk industrinya, sedangkan negara-negara pinggiran membutuhkan barang-barang industri untuk pembangunan. Karena itu tidak bisa dikatakan yang satu mendominasi yang yang lainnya.

1.TEORI KETERGANTUNGAN KLASIK

1. Andre gunder frank: pembangunan keterbelakangan

Frank adalah adalah seorang ahli ekonomi amerika dia mengungkapakan bahwa keterbelakangan bukanlah suatu kondisi ilamiah dari sebuah masyarakat.bukan juga masyarakat itu kekurangan modal. Keterbelakangan merupakan sebuah proses ekonomi, politik dan sosial yang terjadi akibat globalisasi dari sistim kapitalisme. Keterbelakangan dinegara-negara pinggiran (yang oleh frank disebut sebagai negara satelit) adalah akibat langsung dari terjadinya pembangunan dinegara-negara pusat (frank negara-negara metropolis).

            Frank dalam teorinya mengembangkan teori tentang konsep prebisch tentang negara-negara pusat dan pinggiran, yang disebutkan sebagai negara-negara metropolis dan negara-negara satelit.tetapi kalau prebisch, terutama berbicara tentang aspek ekonomi persoalan ini yakni ketimpangan nilai tukar, frank lebih berbicara tentang aspek politik dari hubungan ini, yakni hubungan politis (dan ekonomi) antara modal asing dengan kelas-kelas yang berkuasa di negara-negara satelit.

            Menurut teori frank. Ciri- ciri perkembangan dari kapitalisme satelit adalah:

  1. kehidupan ekonomi yang tergantung
  2. terjadinya kerja sama antara modal asing dengan kelas-kelas yang berkuasa dinegara-negara satelit, yakni para pejabat pemerintah, kelas tuan tanah dan pedagang.
  3. Terjadinya ketimpangan antara yang kaya (klas yang dominan yang melakukan ekploitasi) dan yang miskin (rakyat jelata yang di eksploitir) di negara- negara satelit.

Atas dasar tesis diatas, frank menolak pendapat kaum marxis yang menganut teori pentahapan refolusi yakni bahwa kalau masyarakat tersebut masyarakat feodal, perlu ada refolusi borjuis dulu yang akan melahirkan masyarakat kapitalis, sebelum menjalankan refolusi sosial. Menurut frank negara-negara satelit merupakan negara kapitalis. Karena itu, perubahan yang diperlukan adalah yang langsung menuju sosialisme. Jadi bagi frank, keterbelakangan hanya bisa diatasi melalui refolusi, yakni refolusi yang melahirkan sistim sosialis.

2. Theotonio Dos Santos: Membantah Frank.

Dos santos adalah orang yang memberikan definisi ketergantungan yang banyak dikutif. Dalam definisinya terungkap bahwa, negara-negara pinggiran atau satelit pada dasarnya hanya merupakan bayangan dari negara pusat atau metropolis. Bila negara pusat yang menjadi induknya negara berkembang, negara satelis juga bisa ikut berkebang, bila negara induknya mengalami krisis, satelitnya pun kejangkitan krisis.

Definisi ini sangat berbeda dengan konsep frank yang telah di tulis diatas. Bagi frank hubungan negara metropolis selalu berakibat negatif bagi negara satelit. Tidak mungkin ada perkembangan dinegara satelit, selama negara ini masih berubungan dengan menginduk kepada negara metropolis. Dengan demikian meskipun frank dan dos santos merupakan tokoh dari teori ketergantungan keduanya berbeda dengan beberapa hal.

Dos santos membedakan tiga bentuk ketergantungan yakni:

  1. 1.      Ketergantungan kolonial. Disini terjadi domistik politik dalam bentuk penguasaan kolonial atau penjajahan, dari negara pusat atau negara pinggiran. Kegiatan ekonomi yang utama adaah perdagangan dari hasil bumi yang di butuhkan oleh negara penjajah.
  2. 2.      Ketergantungan finansial atau industrial. Disini tidak ada dominasi politik dalam bentuk penjajahan. Negara pinggiran secara politis merdeka. Tetapi dalam kenyataannya, negara pinggiran ini masih dikuasai oleh kekuatan kekuatan finansial dan industrial dari negara pusat, sehingga praktik ekonomi pinggiran merupakan satelit dari negara pusat.
  3. 3.      Ketergantungan finansial industrial, ini adalah bentuk ketergantungan baru. Kegiatan ekonomi dinegara pinggiran tidak lagi berupa bahan ekpor baahan mentah untuk keperluan industri dinegara pusat.

II. MEMBANTAH TEORI KETERGANTUNGAN: INDUSTRIALISASI DINEGARA PINGGIRAN

Salah satu kritik yang penting terhadap teori ketergantungan adalah tentang kemungkinan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi dinegara-negara pinggiran. Kritik ini mengarah pada sebuah pemikiran paul dan frank yang menyatakan bahwa proses industrialisasi akan dihambat karena elite yang dominan di negara pinggiran yakni tan tanah dan para pedagang, akan lebih diuntung kan bila barang-barang industridiperoleh melalui imfor luar negeri.

Cardoso pada tahun 1972 telah menulis bahwa gejala pembangunan dan gejala ketergantungan masi berjalan seiring. Dalam artikelnya yang lain,ia menamakan gejala pembangunan dalam ketergantungan ini sebagai associated dependen develovment atau pembangunan yang tergatung yang hnya terikut sertaan.

Cardoso menjelaskan gejala ini disebabkan oleh perubahan bentuk ketergantungan. Ketergantungan yang klasik didasarkan pada eksploitasi pada bahan mentah. Tetapi dengan berkembangnya teknologi, produksi bisa dilakukan dimana saja, sementara perusahaan induk (yang menjadi perusahaan multinasional) tidak kehilangan kontrol terhadap teknologinya melalui sistim paten. Oleh karena itu produksi dapat dilakukan dinegara-negara pinggiran. Apa lagi, karena kebijakan produksi melalui bia masuk yang mahal dan cara-cara lain membuat perusahaan perusahaan ini harus menanam modalnya dinegara tersebut supaya dapat merebut pasar dalam negeri yang ada. Maka perusahaan-perusahaan multi nasional ini menjadi pendorong dan pelaku bagi bagi terjadinya proses industrialisasi dinegara-negara pinggiran.

Penganut teori ketergantungan yang lain evans menyatakan bahwa pembangunan dan idustrialisasi memang terjadi secara berhasil dibeberapa negara pinggiran. Dia juga menyatakan bahwa pada mula modal asing yang masuk dinegara-negara pinggiran hanya mengurus bahan mentah dan menjual barang industri mereka. Industrinya sendiri dibangun dinegara pusat, karena, industri itu dibangun dinegara pinggiran resikonya terlalu tinggi bagi industriawan pusat untuk tidak kehilangan kontrol terhadap pabrik-pabriknya.

Oleh karna itu, terjadilah apa yang disebut oleh evans sebagai proses devendent development, atau pembangunan dalam ketergantungan. Proses ini berbeda dengan proses ketergantungan klasik yang terjadi sebelumnya, pada priode pembangunan dalam ketergantungan dinegara-negara pinggiran terjadi pembangunan dan industrialisasi, dimana kaum borjuasi lokaldilibatkan secara aktif. Pada priode ini juga muncul prusahaan-prusahaan multinasional raksasa.

Dengan demikian lahirlah apa yang disebut oleh evans sebagai Aliansi Tripel, yakni kerja sama antara (1) modal asing (2) pemerintah dinegara pinggiran yang bersangkutan dan (3) borjual lokal. Modal asing melalui prusahaan-prusahaan multi nasional raksasa, melakukan investasi dinegara pinggiran tersebut. Pemerintah lokal, yang membutuhkan modal, teknologi dan akses kedalam pasar dunia untuk bisa menyelenggarakan pembangunan dinegaranya, tentu saja membutuhkan bantuan perusahaan multi nasional ini. Tetapi, supaya pemerintah lokal ini tidak dituduhhanya menjadi alat dari modal asing, borjuasi lokal harus disertakan. Dengan demikian, pembangunan tidak sepenuhnya ada ditangan modal asing.

Kerjasama antara pemerintah lokal dan modal asing bersifat kerja sama ekonomi, dalam arti bahwa kerja sama tersebut memang diperlukan bila negara itu ingin mendorong terjadinya proses industrialisasi. Sedangkan kerja sama antara pemerintah dan borjual lokal bersifat politis, dalam arti tujuan kerja sama tersebut terutama adalah untuk mendapatkan legitimasi politik. Supaya pemerintah tersebut dapat diterima sebagai negara nasional yang  memperjuangkan kepentingan bangsa.

Demikianlah evans memberikan ciri dari apa yang disebutkan sebagai pembangunan dalam ketergantungan , lengkap dengan analisis tentang aliansi teripelnya. Kalau ketergantungan klasik dihubungkan dengan negara-negara yang lemah, pembanguna dalam ketergantungan dihubungkan degan negara yang kuat. Bahkan konsolidasi negara hingga menjadi kuat dapat dikatakan menjadi prasarat dapat terjadinya tahap pembangunan dalam ketergantungan.

Jadi dari para pemikir  teori ketergantungan yang belakangan yang meragukan tesis ini.dos santos,cardoso, evans dan masih banyak yang lain menyatakan bahwa ketergantungan tidak selalu berati keterbelakangan. Ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan. Ahirnya keluarlah suatu kosep cordos associated devendent develovment sedangkan evan mengemukakan istilah devendent develovment.

III. TEORI KETERGANTUNGAN: KRITIK DAN POLEMIK SELANJUTNYA

            Titik ini hanya sekedar suatu rumusan dari teori-teori yang sudah dibahas. Pertama teori pembangunan dari para ekonomi liberal beranggapan bahwa keterbelakangan adalah akibat dari kekurangan modal. Kekurangan ini disebabkan oleh faktor-faktor tradisional yang ada pada masyarakat yang terbelakang itu, serta tingkat keahlian yang rendah.

            Teori ketergantungan pada dasarnya setuju dengan kekurangan modal dan ketiadaan keahlian sebagai penyebab ketergantungan. Tetapi faktor penyebabnya bukan dicari bukan pada nilai-nilai tradisonal bangsa itu melainkan pada proses imprealisme dan non-imprealisme yang menyedot surflus modal yang terjadi di negara-negara pinggiran kepusat. Oleh karna itu penambahan modal dan keahlian yang disuntikkkan begitu saja kenegara-negara pinggiran tidak akan menolong sebelum struktur ekonomi dan struktur politik yang dibuat untuk memberikan keuntungan pada modal asing dan borjuis lokal ini diubah secara radikal.

            Salah satu kritik dari klompok teori liberal robert A. Packenham, dia menyebutkan teori ketergantungan .

  1. Teori ketergantungan menekankan aspek internasional dari pembangunan nasional dinegara-negara amerika latin.
  2. Teori ketergantungan mempersoalkan akibat dari politik luar negeri negara-negara industri terhadap negara-negara pinggiran.
  3. Teori ketergantungan membahas proses internal dari perubahan perubahan dinagara-negara pinggiran dengan mengaitkannya pada politik luar negeri negara-negara maju
  4. Teori ketergantungan menekankan kegiatan sektor suwasta dalam hubungannya dengan kegiatan dengan prusahaan-prusahaan multi nasional, disampig pada kegiatan sektor publik seperti bantuan luar negeri dan deplomasi politik.

Menurut packenham ketergantungan tidak cukup diukur dengan konsep ada atau tidak adanya gejala tersebut, dia harus diketahui drajatnya, sehingga bisa kita ketahui apakah sebuah negara mengalami kemajuan, atau kemunduran dalam tingkat ketergantungan . untung ini perlu dipakai perhitungan kualitatip.

Salah seorang yang melakukan perhitungan kualitatif terhadapkonsep ketergantungan adalah crishtopher chase dunn(1975) dia mengukur bagaimana investasi modal asing dan bagaimana ketergantungan pada utang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Menurut teori ketergantungan investasi modah asing dan ketergantungan pada utang akan berakibat negatif pada pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pada pemerataan pendapatan.

Menurut chase dunn dampak negatif tersebut:

  1. Akibat investasi asing sumber-sumber alam dinegar pinggiran jadi habis. Laba dari investasi diangkut keluar negeri.
  2. Produksi yang berorentasi keluar negeri dan maksudnya perusahaan-perusahaan multi nasional mengubah struktur ekonomi negara-negara pinggiran. Struktur ekonomi yang baru ini, akan menghasilkan dinamika ekonomi yang mengakibatkan keterbelakangan, karena lebih melayani kepentingan modal asing dan borjuasi lokal yang berkerja sama dengan modal ini.
  3. Hubungan anatar elite dinegara pusat dan pinggiran mencegah terjadinya pembangunan nasional, karena ini akan merugikan epentingan mereka.

Sedangkan menurt chase dunn dampak positif dan negtif dari invstasi asing dan ketergantungan luar negeri terhadap pemerataan pendapatan terjadi melalui.

  1. Kelompok elit dinegara pinggiran memperoleh bagian lebih banyak dari pendapatan nasional karena kekutannya didukung oleh kekuatan-kekuatan yang ada dinegara pusat. Maka terjadi ketimpangan pemerataan pendapatan.
  2.  Adanya modal dan bantuan asing mengakibatkan kenaikan gaji bagi orang-orang asing yang bekerja diperusahaan asing dan ini mengurangi ketimpangan –endapatan.

Dari teori tersebut diatas fernando herique cordoso salah satu yang tidak setuju dengan usaha mengkuantifikasikan kosep ketergantungan. Dalam pernyataannya dalam tulisannya ia telah menguraikan yang telah dipersoalkan adalah bagaiman mengerti proses historis terjadinya keterbelakangan dinegara-negar tersebut. Ketergantungan tidak hanya bisa dilihat sebagai dominasi dinegara-negara pusat yang kemudian melalui kekerasan secara langsung ataupun tidak memeras keuntungan dari negara-negara pinggiran .dengan demikian menurut cardoso perbincangan tentang masalah ketergantungan dinegara-negara latin amerika latin adalah untung memahami proses terjadinya keterbelakangan.

 Dilihat dari sisinya,Yang menjadi ciri dari semua teori ketergantungan adalah :Yang menjadi hambatan dari pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional yang terjadi. Dengan demikian yang menjadikan faktor-faktor keterbelakangan adalah faktor internal. Dan juaga pembagian kerja internasional ini diuraikan menjadi  antara dua kawasan, yakni pusat dan pinggiran.terjadi pengalihan surplus dari negar pinggiran kepusat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s